Artikel
Tips Presentasi Mantap, Asyiik dan Inspiratif PDF  | Print |  E-mail
Motivasi
Written by Arfiana Rafnialdi   
Tuesday, 23 March 2010 04:36
Seorang pejabat di sebuah kampus ternama Indonesia bercerita tentang presentasi yang diberikan oleh rektor baru di hadapan Majelis Wali Amanat. Slide presentasinya disiapkan begitu lengkap dan rinci. Setiap Wakil Rektor dan Direktorat dibawahnya kebagian beberapa slide yang menjelaskan operasional kerja masing-masing. Semua harus menyampaikan KPI (Key Performance Indicator) yang detail. Dampaknya slide itu menjadi panjang dan banyak. Banyak pula slide yang berisi teks yang fontnya kecil. Singkatnya: sulit dibaca. Tipe presentasi ini saya sebut “minum obat sambil makan lele”, sudah lambat bertele-tele! J

Dalam bentuk atau kesempatan yang berbeda, mungkin Anda juga pernah mengalami presentasi yang begitu membosankan. Nggak nyambung dan nggak jelas. Hanya saja karena merasa tidak enak dengan pembicaranya, kita tetap di dalam ruangan meskipun agak gelisah. Atau jangan-jangan kita sendiri pernah jadi pelaku utamanya. Model presentasi seperti ini selain mubazir, juga menyiksa pendengarnya. Pakar public speaking Dr. Rhenald Kasali bahkan menyebut presenter seperti ini sudah merampok waktu pendengarnya untuk sesuatu yang kurang berharga.

Saya ingin sedikit berbagi gagasan yang bisa membuat Anda menjadi pembicara yang lebih menarik.

Ada 3 level dari seorang pembicara public. Paling bawah adalah yang berpusat pada dirinya sendiri. Isi presentasinya adalah what I want to say atau what I have to say”. Hal utama yang dipikirkan adalah dirinya. Dia tidak terlalu ambil pusing dengan pendengarnya. Apakah mereka suka atau tidak? Apakah mereka perlu ini atau tidak? Apakah mereka mudah memahaminya atau tidak? Ia tidak memikirkan hal itu. Tipe pembicara seperti ini biasanya “asyik sendiri”. Kadang kita menemukannya ngobrol dengan papan tulis atau layar presentasi atau membaca kertas contekan yang dibawanya. Ia jarang menatap audiencenya. Jika menampilkan slide, yang penting bisa terbaca oleh dirinya sendiri dan sudah mencakup semua yang ingin serta harus ia katakan. Peduli amat ukuran fontnya terlalu kecil sehingga sulit terbaca. Biasanya para public speaker pemula terjangkiti penyakit seperti ini. Anda pasti pernah menemui tipe pembicara pertama ini.

Level kedua adalah pembicara yang berpusat pada pendengarnya. Ia akan mengatakan what they want to hear”. Ia berpikir keras apa yang bisa menarik perhatian pendengarnya? Apa yang bisa membuat mereka senang? Biasanya pembicara seperti ini bisa membuat pendengarnya menikmati saat bersamanya. Ia berbicara dengan luwes, memberikan perhatian dan berinteraksi dengan pendengarnya, bahkan kadang menghibur. Slide presentasinya menarik, penuh gambar dan warna. Kadang diselingi dengan film juga. Asyik kan mendengarkannya? Namun sayangnya, tidak semua yang dikatakannya berisi. Memang para pendengar merasa seru saat di ruangan, namun setelahnya bingung “apa ya yang saya peroleh dari presentasi tadi?” Kalau tujuan utamanya untuk menghibur, gaya presentasi ini memang pas. Namun jika ada hal lain yang perlu difahami oleh para pendengar, maka kita perlu meningkatkan diri ke level selanjutnya.

Paling tinggi adalah pembicara yang berpusat pada pembelajaran. Ia mengakatan what they need to hear”. Ia menghibur sekaligus mencerahkan. Para pendengar akan menikmati presentasinya juga mendapatkan manfaat darinya. Tipe pembicara seperti ini berusaha mengenali siapa dan apa kebutuhan pendengarnya sebelum ia tampil. Ia mencoba berpikir dari sudut pandang pendengar ketika menyiapkan dan menyampaikan presentasinya. Kita pasti kenal para pembicara dengan kualitas seperti ini. Umumnya mereka sudah memiliki jam terbang yang tinggi. Mereka mampu menguasai dirinya, menghibur para pendengarnya serta sekaligus menebarkan pengaruhnya pada saat bersamaan.

Tentu saja tipologi di atas tidak saklek. Bukan berarti pembicara tipe pertama dan kedua tidak memberikan manfaat sama sekali bagi para pendengarnya. Mungkin ada, namun sulit difahami entah karena penyampaian yang tidak menarik atau justru terlalu banyak bumbu humor sehingga bias. Bukan berarti juga tipe ketiga selalu tampil menghibur. Kadang ia bisa tampil tegas dan serius, namun dibalik itu para pendengarnya merasakan betul bahwa semua ini ada manfaatnya. Bagaimana pun pembicara tipe ketiga adalah yang terbaik. Jika profesi atau peran sosial Anda menuntut banyak melakukan presentasi, maka Anda perlu berproses untuk mencapai level yang tertinggi. Ya, menjadi seorang pembicara yang mantap dengan dirinya sendiri, menyampaikan gagasan dengan asyiik dan mencerahkan para pendengarnya.

Berikut ini beberapa tips praktis yang  bisa membantu kita menjadi pembicara yang lebih baik:

1.       Ajukan pertanyaan yang tepat. Pikiran kita diarahkan dengan pertanyaan. Ajukan pertanyaan yang mengarahkan pada kebutuhan pendengar. Misalnya: siapa pendengar saya? Berapa banyak yang akan hadir? Apa kepentingan mereka yang terkait dengan tema presentasi? Apa yang butuh mereka ketahui lewat presentasi saya? Dan lain-lain.

2.       Perbanyak jam terbang. Presentasi adalah keterampilan. Kita akan makin baik melakukannya jika melakukan pengulangan dan latihan. Nah, jika dalam waktu dekat ini ada kesempatan untuk presentasi, sekecil apa pun kesempatan itu, ambil saja. Manfaatkan ini untuk berlatih. Makin sering kita melakukan presentasi, makin mudah kita meningkatkan level kemampuan kita.

3.       Pelajari teknik public speaking yang baik. Bacalah buku, hadiri berbagai seminar dan pelatihan yang bisa meningkatkan performa Anda. Mungkin Anda perlu belajar teknik bercerita atau menyampaikan humor agar presentasi Anda makin hidup. Mungkin Anda juga perlu mempertimbangkan belajar hypnosis atau NLP agar presentasi Anda lebih mantap. Belajar memanfaatkan berbagai peralatan dan teknologi juga pasti akan membantu presentasi Anda.     

Tentu Anda juga memiliki berbagai tips yang bisa memperbaiki presentasi Anda. Demikian juga sang pejabat kampus yang saya ceritakan di atas. Sebagian sarannya sudah langsung saya masukkan juga di atas. Nah, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Semoga presentasi Anda makin baik, Anda tampil lebih percaya diri, lebih menarik bagi para audience serta lebih memberikan manfaat yang besar.
 
Sesial-Sial Tupai Jatuh, Pasti Tetap Pandai Melompat PDF  | Print |  E-mail
Motivasi
Written by Arfiana Rafnialdi   
Tuesday, 02 March 2010 07:08
Ya, Anda tidak salah baca. Judul tulisan ini memang seperti itu. Saya tahu sebagian dari Anda merasa ada yang janggal. Mungkin karena Anda pernah mendengar atau membaca pepatah lain yang bunyinya mirip dengan itu. Pasti pepatah yang terlintas di benak Anda adalah “sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Betul, kan?

Saya tertarik menulis ini memang setelah membaca pepatah yang kedua tadi. Sebuah koran ibukota mengungkapkannya ketika membahas klub sepakbola Barcelona yang takluk oleh Atletico Madrid setelah sekian lama tak terkalahkan. Dunia memang tidak sempurna. Tidak ada yang selalu menang. Kadang ada kalanya kekalahan datang. Namun rasanya hati ini kurang sreg dengan pepatah yang seperti mengamini kekalahan tersebut. Ia terlalu fokus pada “jatuh”. Ia bisa menjadi sebuah dis-empowering belief. Seseorang yang trend prestasinya sedang bagus, malah jadi seperti menantikan kekalahan jika terlalu kuat meyakini ungkapan ini.

Oleh karenanya, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang sedang kalah bukan berarti ia tidak mampu. Banyak pakar yang meneliti dan membuktikan dahsyatnya potensi yang dimiliki manusia. Banyak hal yang awalnya disangka tidak mungkin kemudian terpatahkan oleh para pelintas batas. Apalagi jika pengalaman masa lalu kita sudah mencatatkan begitu banyak kemenangan, dengan berbagai ukurannya. Kekalahan hanyalah sebuah umpan balik, yang mengingatkan kita perlu ada sesuatu yang diubah. Bahkan seringkali kekalahan hadir sebagai bahan bakar. Bahan bakar untuk kesuksesan. Kekalahan bukan hadir untuk menunjukkan kita lemah. Ia justru hadir untuk memberitahu apa yang harus kita kuatkan. Kekalahan bukan datang untuk membuat kita berhenti. Ia justru menginspirasikan kita jalan baru untuk maju.

Jadi, jika saat ini ada sebentuk kekalahan yang sedang mengunjungi hidup Anda, bersyukurlah. Tuhan sedang memberi Anda kesempatan untuk menguatkan diri, membesarkan kapasitas, mencerdaskan strategi serta menyiapkan berbagai hal yang tertinggal. Anda tetap jagoan, anda tetap hebat. Yang Anda perlukan hanyalah BANGKIT. Hikmah kekalahan pasti membuat langkah Anda makin mantap. Jadi, MELANGKAHLAH lagi. Ingat, “sesial-sial tupai jatuh, pasti tetap pandai melompat”. Selamat MELOMPAT!

 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2
feed-image Feed Entries