Artikel
Sesial-Sial Tupai Jatuh, Pasti Tetap Pandai Melompat PDF  | Print |  E-mail
Motivasi
Written by Arfiana Rafnialdi   
Tuesday, 02 March 2010 07:08
Ya, Anda tidak salah baca. Judul tulisan ini memang seperti itu. Saya tahu sebagian dari Anda merasa ada yang janggal. Mungkin karena Anda pernah mendengar atau membaca pepatah lain yang bunyinya mirip dengan itu. Pasti pepatah yang terlintas di benak Anda adalah “sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Betul, kan?

Saya tertarik menulis ini memang setelah membaca pepatah yang kedua tadi. Sebuah koran ibukota mengungkapkannya ketika membahas klub sepakbola Barcelona yang takluk oleh Atletico Madrid setelah sekian lama tak terkalahkan. Dunia memang tidak sempurna. Tidak ada yang selalu menang. Kadang ada kalanya kekalahan datang. Namun rasanya hati ini kurang sreg dengan pepatah yang seperti mengamini kekalahan tersebut. Ia terlalu fokus pada “jatuh”. Ia bisa menjadi sebuah dis-empowering belief. Seseorang yang trend prestasinya sedang bagus, malah jadi seperti menantikan kekalahan jika terlalu kuat meyakini ungkapan ini.

Oleh karenanya, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang sedang kalah bukan berarti ia tidak mampu. Banyak pakar yang meneliti dan membuktikan dahsyatnya potensi yang dimiliki manusia. Banyak hal yang awalnya disangka tidak mungkin kemudian terpatahkan oleh para pelintas batas. Apalagi jika pengalaman masa lalu kita sudah mencatatkan begitu banyak kemenangan, dengan berbagai ukurannya. Kekalahan hanyalah sebuah umpan balik, yang mengingatkan kita perlu ada sesuatu yang diubah. Bahkan seringkali kekalahan hadir sebagai bahan bakar. Bahan bakar untuk kesuksesan. Kekalahan bukan hadir untuk menunjukkan kita lemah. Ia justru hadir untuk memberitahu apa yang harus kita kuatkan. Kekalahan bukan datang untuk membuat kita berhenti. Ia justru menginspirasikan kita jalan baru untuk maju.

Jadi, jika saat ini ada sebentuk kekalahan yang sedang mengunjungi hidup Anda, bersyukurlah. Tuhan sedang memberi Anda kesempatan untuk menguatkan diri, membesarkan kapasitas, mencerdaskan strategi serta menyiapkan berbagai hal yang tertinggal. Anda tetap jagoan, anda tetap hebat. Yang Anda perlukan hanyalah BANGKIT. Hikmah kekalahan pasti membuat langkah Anda makin mantap. Jadi, MELANGKAHLAH lagi. Ingat, “sesial-sial tupai jatuh, pasti tetap pandai melompat”. Selamat MELOMPAT!

 
Pikiran yang Memberdayakan
Renungan
Written by Arfiana Rafnialdi   
Tuesday, 16 December 2008 00:53
Diri kita adalah sintesa dari segala pemikiran kita. We are what we think. Akumulasi pikiran yang makin intens akan menghasilkan suatu kondisi emosi tertentu. Kemudian emosi inilah yang berjodoh dengan keputusan yang kita ambil dan melahirkan sebuah tindakan.

Jika tindakan ini kita ulangi terus menerus, maka ia kita sebut kebiasaan. Makin lama kebiasaan ini kita peliharan dalam diri, makin kuat ia membentuk karakter pribadi kita. Jadi secara singkat, pikiran kita akan membentuk karakter kita.

Pikiran kita sering begitu liar sehingga sulit kita kontrol. Terkadang muncul pikiran negatif seperti buruk sangka yang membuat kita curigaan (emosi negatif). Walaupun tekadang muncul juga pikiran baik yang membuat kita merasa tenang meskipun situasi di sekitar kacau.

Nah, apa pun isi pikiran itu, ia akan sedikit banyak mempengaruhi jiwa kita. Pikiran negatif akan cenderung melemahkan jiwa dan mematikannya. Sementara pikiran positif akan memberdayakan dan menguatkan jiwa.

Satu hal yang perlu kita fahami juga adalah bagaimana proses berpikir terjadi. Tony Robbins menjelaskan bahwa berpikir adalah proses bertanya dan menjawab yang tejadi dalam otak kita. Pantas saja banyak pakar motivasi yang menyatakan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh kualitas pertanyaan yang sering muncul di benaknya. Dengan kata lain, ditentukan oleh kualitas apa yang dipikirkannya.

Jangan tanyakan alasan mengapa saya tidak bisa begini dan begitu? Pertanyaan ini sudah mengasumsikan bahwa kita tidak bisa dan sedang mencari pembenaran/penguatan argumen terhadap asumsi itu. Coba ubah pertanyaannya menjadi: bagaimana supaya saya bisa begini dan begitu? Nah, ini pertanyaan yang memberdayakan. Ia menyiratkan tekad kita untuk bisa, lalu ia membantu diri kita mencari caranya. Mudah kan? :)

He 3x, pesan moral kali ini adalah: pintar-pintarlah memilih pertanyaan dalam benak kita. Ini yang akan menentukan kualitas pikiran kita, yang pada akhirnya akan membentuk karakter diri kita.

Semoga SUKSES!
 
More Articles...
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2
feed-image Feed Entries